Rabu, 30 Oktober 2024

Belajar Hidup dari Abdullah bin Umar: Antipati Alias Ogah Meraih Jabatan Demi Hidup Tenteram

Ilustration this episode edited by Kapwing.
Credits :neuralwritter.com

Assalamualaikum sobat blogger yang Budiman dimanapun kalian berada semuanya, kali ini kembali penulis akan menceritakan sekaligus men-share kembali sebuah kisah inspirasi islami yang didapat dari website dengan judul : 

"Belajar hidup dari Abdullah bin Umar : 'Antipati alias ogah meraih jabatan demi hidup tenteram.' "

Selamat membaca dan Semoga bermanfaat,terima kasih..

Oke gaspoll Bray..🚴🚴🚴🚴🚴

Dia merupakan putra dari salah satu khurafaur Rasyidin sekaligus menjadi seorang Khalifah yang ke 2 bernama dia Umar bin Khattab. Meskipun demikian dia tidak pernah gila akan jabatan dan juga menghalalkan segala cara untuk bisa meraih suatu posisi di dalam pemerintahan.

ilustrasi sang ayahanda ummar bin Khattab yang termasuk diantara salah satu khulafaur Rasyidin.Kredit : Wikipedia.com|Unknown

Masuk ke dalam Islam semenjak belia bersama bapak tercinta ini, lelaki yang satu ini juga populer dengan sebutan. “Ibnu Umar” atau anak dari umar. Selain itu, dia juga tergolong orang-orang yang ikut pergi atau hijrah bersama Rasulullah saw. ke kota Madinah.Tidak sampai disitu saja, Abdullah juga masuk ke dalam urutan kedua yaitu setelah Abu Hurairah sebagai periwayat hadits terbanyak.

Dia sangat bergairah saat setiap kali kumandang jihad terjadi. Namun banyak yang tidak mengira kalau dia merupakan seorang yang anti kekerasan, apalagi jika pihak yang berselisih tersebut adalah sesama muslim. Hal tersebut terbukti pada saat dia menolak tawaran tersebut Meskipun sudah berkali-kali dan banyak orang yang menawarkannya menjadi seorang khalifah.

Ilustrasi orang selalu menolak menjadi Khalifah.Kredit : monica.im

Dalam sebuah riwayat yang ditulis oleh Hasan ra, tatkala Utsman Bin Affan dihilangkan. Sekelompok umat Islam memaksanya menjadi khalifah. Mereka berteriak di depan rumah Ibnu Umar, mengatakan akan meminta orang-orang untuk berbai'at kepadanya, jika ia mau menjadi khalifah hingga ancaman akan dibunuh di tempat tidurnya sendiri.

Namun tetap saja ditolak, hingga massa bubar dengan sendirinya. Karena bagi Ibnu Umar, ia tidak mau ada pertumpahan darah karena dirinya. Sampai kesekian kali tawaran untuknya menjadi seorang khalifah, Ibnu Umar mengajukan syarat, yakni asal ia dipilih oleh seluruh kaum muslimin tanpa paksaan. Jika bai'at dipaksakan sebagian orang atas, sebagian lainnya di bawah ancaman pedang, ia akan menolak jabatan khalifah dengan cara semacam ini.

Karena seandainya Umar tak menolak, maka tak seorangpun akan menentang kepemimpinannya. Tentu Umar Heran, padahal ia tak pernah menumpahkan darah mereka atau berpisah dengan jama'ah mereka, dan ia tak suka jika dalam hal ini seseorang mengatakan setuju sedang yang lain tidak.

Lagi-lagi, Ibnu Umar menghindari posisi pemimpin tertinggi umat Islam ini. Di usia yg telah lanjut pun masih ada harapan orang untuk dipimpinnya. Ketika Mu'awiyah II, putra Yazid yang beberapa kali menduduki jabatan khalifah, dengan Marwan menemui Ibnu Umar, bersedia berbai'at kepadanya untuk menjadi khalifah mereka.

Dan cara apapun akan dilakuan, agar semua orang mau berbai'at kepadanya. Namun tidak semerta merta Ibnu Umar menerima, ia bertanya bagaimana dengan sebagian orang lain itu, sungguh ia tidak akan sudi seorang manusia menyebabkannya.

Meski pada akhirnya, pernah Abdullah bin Umar berkata, ia tak pernah menyesali suatu hal pun, kecuali karena ia tidak mendampingi Ali dan tidak mampu menghentikan peperangan terhadap golongan pendurhaka.

Segala bentuk persetujuannya, bagi Ibnu Umar karena ia hanya ingin bersikap netral dengan tidak lebih memihak pada suatu kaum dan mengabaikan yang lain. Ia hanya sangat sedih ketika melihat perpecahan antar umat Islam. Bukan pula kelemahanya, namun ia tak ingin adanya pertumpahan darah kaum muslim, bahkan karenanya.

Namun lain hal dengan pemikiran sebagian orang. Selain mendata sifat-sifat Ibnu Umar, sosiolog Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah mengkritisi, menurutnya Abdullah Bin Umar melarikan diri dari urusan kenegaraan, karena sifatnya memang senang menghindar dari ikut campur dalam urusan apapun. Baik yang boleh maupun yang terlarang. Wallahua'lam

Demikianlah tadi sudah penulis share dan sampaikan sampaikan kisah tersebut kepada kalian semuanya para pembaca blogger yang Budiman semuanya,semoga bermanfaat..

Sampai bertemu kembali pada episode selanjutnya.

Jazakumullah 

Sekian..

Tags : Kisah inspirasif, Abdullah bin Umar,hidup damai,anti perang,antipati jabatan,hidup tenteram, manfaat,periwayat hadist.

Source :ysdf.org/berita


===================================

*Pemilik resmi alias Hak cipta blog ini adalah : ©catatanringanramadhan1445h. Ditulis dan diterbitkan pada tahun@2024.Diberdayakan oleh:Blogger.com™


Tidak ada komentar: