Jumat, 05 April 2024

Inspiratif: Perjalanan Hidup Buya Hamka, Tokoh Agama Sumatera Barat

Ilustration this episode edited by Kapwing.
(Credits: neuralwritter.com)


Assalamualaikum sobat blogger semuanya! Kita sudah berada di episode ke sembilan, dan kali ini kita akan membahas sosok inspiratif, Buya Hamka, seorang tokoh mubaligh dan sastrawan asal Sumatera Barat. Yuk, simak kisah perjalanan hidupnya yang penuh makna!

Buya Hamka: Tokoh Islam yang Berpengaruh

 
Prof. DR. H. Abdul Malik Karim Amrullah, atau yang lebih dikenal dengan nama Buya Hamka, adalah salah satu tokoh agama terkemuka di Indonesia. Beliau tidak hanya dikenal sebagai penyiar dakwah Islam, tetapi juga sebagai wartawan, penulis, sastrawan, dan budayawan.

Masa Kecil dan Pendidikan


Buya Hamka lahir pada tanggal 16 Februari 1908 atau 13 Muharam 1326 H, di Maninjau, Sumatera Barat. Kata "buya" dalam bahasa Minangkabau berarti "ayah" atau "bapak", dan menjadi bentuk penghormatan kepada beliau.
 
Beliau lahir dari pasangan Dr. H. Abdul Karim bin Muhammad Amrullah bin Tuanku Abdullah Saleh dan Siti Shafiah. Ayahnya, yang dikenal dengan nama Haji Rasul, adalah seorang tokoh pembaruan Islam di Minangkabau.
 
Sejak kecil, Buya Hamka telah mendapatkan pendidikan agama dari kedua orang tuanya. Beliau belajar dasar-dasar agama dan membaca Al-Qur'an langsung dari ayahnya.
 
Pada usia 6 tahun, ayahnya mengajaknya berhijrah ke Padang Panjang. Di usia 7 tahun, Buya Hamka mulai bersekolah di sekolah desa. Meskipun belajar secara otodidak, ia memiliki semangat belajar yang tinggi.
 
Pada usia 10 tahun, ayahnya mendirikan lembaga pendidikan bernama "Sumatra Thawalib" di Padang Panjang. Di sini, Buya Hamka mendapatkan pembelajaran ilmu agama dan bahasa Arab langsung dari ayahnya.
 
Selain belajar di lembaga pendidikan milik ayahnya, Buya Hamka juga mendalami pendidikan di sekolah diniyah di Parabek. Di sana, beliau belajar dari berbagai guru, seperti Syekh Ibrahim Musa Parabek, Engku Mudo Abdul Hamid, Sutan Marajo, dan Zainuddin Labay el-Yunusy.
 
Di sekolah diniyah inilah, Buya Hamka mulai diperkenalkan dengan sistem pendidikan Islam modern, yang mengacu pada kurikulum pendidikan.

Ilustrasi Buya hamka kecil belajar Qur'an bersama ayahnya sejak dini.
(Credits: Neuralwritter.com )

Perjalanan Mencari Ilmu

 
Pada usia 16 tahun, Buya Hamka meninggalkan tanah kelahirannya untuk menuntut ilmu di Yogyakarta. Beliau tinggal bersama pamannya, Ja'far Amrullah. Di Yogyakarta, Buya Hamka diperkenalkan dengan organisasi Sarekat Islam (SI).
 
Selama belajar di Yogyakarta, Buya Hamka menyadari perbedaan pemahaman Islam di Minangkabau dan Yogyakarta.  Di Minangkabau, Islam cenderung bersifat statis, sedangkan di Yogyakarta lebih dinamis.
 
Merasa belum cukup dengan ilmu yang didapat, Buya Hamka melanjutkan perjalanannya ke Pekalongan, Jawa Tengah, untuk belajar dengan iparnya, Ahmad Rasyid (AR. St Mansur), seorang tokoh Muhammadiyah.

Ternyata masih ada 4 nabi yang masih hidup sampai sekarang, baca skuy:

Menebarkan Semangat Modernisme Islam
 
Setelah merasa cukup mengantongi ilmu, Buya Hamka kembali ke tanah kelahirannya dengan membawa semangat modernisme tentang Islam. Beliau membuka kursus pelatihan pidato di Padang Panjang untuk memperkenalkan konsep Islam yang lebih modernis.
 
Buya Hamka juga mendirikan "Sekolah Tabligh" untuk mencetak para mubaligh Islam.  Meskipun sekolah ini tidak dapat berjalan lama karena kendala operasional, Buya Hamka ditugaskan oleh Muhammadiyah untuk menghidupkan kembali sekolah tersebut di Sulawesi Selatan. Sekolah ini kemudian dihidupkan kembali dengan nama "Kulliyatul Muballighien", dengan tujuan yang sama, hanya saja masa pendidikannya selama 3 tahun.

Foto rapat bersama organisasi Sarekat Islam di Kaliwungukab.semarang-Jawa Tengah.
Credits: Wikipedia.com,Tidak Diketahui 

Menebarkan Semangat Modernisme Islam

 
Setelah merasa cukup mengantongi ilmu, Buya Hamka kembali ke tanah kelahirannya dengan membawa semangat modernisme tentang Islam. Beliau membuka kursus pelatihan pidato di Padang Panjang untuk memperkenalkan konsep Islam yang lebih modernis.
 
Buya Hamka juga mendirikan "Sekolah Tabligh" untuk mencetak para mubaligh Islam.  Meskipun sekolah ini tidak dapat berjalan lama karena kendala operasional, Buya Hamka ditugaskan oleh Muhammadiyah untuk menghidupkan kembali sekolah tersebut di Sulawesi Selatan. Sekolah ini kemudian dihidupkan kembali dengan nama "Kulliyatul Muballighien", dengan tujuan yang sama, hanya saja masa pendidikannya selama 3 tahun.

Suka sepak bola?,mungkin cocok membaca review ini:  Zlatan Ibrahimovic: legenda sepakbola dunia dengan masa lalu kelam

Tokoh Sastra

Selain dikenal sebagai tokoh pembaruan Islam, Buya Hamka juga merupakan seorang sastrawan yang produktif. Beberapa karya sastranya yang populer antara lain:
 
1. Tasawuf Modern dan Lembaga Budi (terbit tahun 1983)
2. Falsafah Hidup (terbit tahun 1985)
3. Tafsir Al-Azhar Juz 1 s/d 30
4. Islam dan Adat Minangkabau (terbit tahun 1984)
5. Studi Islam (terbit tahun 1976)

Foto masjid Taqwa Muhammadiyah  
di Padang.
(Credits: Wikipedia,Rhmtdns)

Pesan Inspiratif

 
Kisah Buya Hamka adalah bukti bahwa semangat belajar dan keinginan untuk menyebarkan kebaikan dapat membawa perubahan besar. Beliau adalah sosok inspiratif yang menginspirasi banyak orang untuk mencintai Islam dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
 
Sobat, bagaimana menurutmu tentang kisah Buya Hamka? Apa yang kamu pelajari dari perjalanan hidupnya? Bagikan pendapatmu di kolom komentar!
 Terima Kasih.Demikianlah episode kali ini. Semoga bermanfaat!
 Sampai bertemu kembali di episode selanjutnya.


Link video youtubenya :

Tags: Kisah inspiratif islami lokal,biografi singkat,perjalanan hidup,Buya hamka, Sumatera Barat.

"Revisi artikel oleh: Cici,seorang penulis AI"

Tidak ada komentar: