![]() |
| Ilustrasi episode ini diedit oleh kapwing. (Credits: Pixabay.com,mufidpwt) |
Assalamualaikum sobat blogger semuanya! Tidak terasa kita sudah memasuki episode ke sembilan.
Episode kali ini akan membahas tentang dua sudut pandang berbeda dalam menjalani hidup, yang dikisahkan melalui dua mahasiswa. Siap-siap untuk merenung dan mungkin terinspirasi!
Nasi Sudah Jadi Bubur?
Kisah ini bermula dari Dion, seorang mahasiswa yang kuliahnya tidak pernah serius. Dia sering bolos, tugas menumpuk, SKS terbengkalai, dan jarang belajar. Ketika ditanya oleh temannya, Ari, ternyata Dion merasa terjebak di jurusan yang dipilihnya karena hanya ikut-ikutan teman.
“Kenapa kamu tidak pindah jurusan saja?” tanya Ari.
“Biar saja, nasi sudah jadi bubur,” jawab Dion acuh tak acuh.
“Mau sampai kapan kamu seperti ini?” tanya Ari lagi.
“Habis begimana lagi, nasi sudah jadi bubur masbrow, tidak bisa diperbaiki lagi,” ujar Dion.
“Bagaimana kalau kamu pindah ke jurusan yang kamu sukai, kamu akan lebih menikmatinya,” saran Ari.
“Saya ini sudah tua, masa harus kuliah dari awal lagi. Gw sadar kalau gw salah masuk jurusan,” ujar Dion sambil merebahkan diri di kasur dan menonton acara sepak bola favoritnya.
“Memang tidak ada yang bisa kamu lakukan lagi?” tanya Ari dengan nada penasaran.
“Tidak, no..nehi..nehi..laa..(woow bisa 4 bahasa demikian penjelasannya😯😯😯😯🙊) saya sudah katakan berulang kali kalau nasi sudah jadi bubur,” jawab Dion dengan nada pasrah.
![]() |
| Ilustrasi contoh orang pesimis dalam kehidupan. |
Cahya: Si Optimis yang Menginspirasi
Ari, yang merasa bingung melihat Dion, teringat pada temannya yang bernama Cahya. Cahya juga pernah salah memilih jurusan, tetapi tetap semangat kuliah. Ari pun menghubungi Cahya.
“Cahya, apakah kamu pernah cerita sama saya, kalau kamu salah memilih jurusan?” tanya Ari.
“Memang saya salah memilih jurusan, memangnya kenapa?” jawab Cahya.
“Yang saya heran, kenapa kamu masih tetap semangat kuliah, sedangkan teman saya malah malas dan tidak serius kuliahnya,” tanya Ari.
“Wadadidaw we ora metu alias tidak paham, coz we juga dulu sempat seperti itu. Tapi sekarang sudah tidak lagi,” jelas Cahya.
“Kalau boleh tahu apa resepnya Cahya, kumohon?” tanya Ari lagi.
“Pertama, saya merelakan diri masuk ke arah ini. Mungkin ini yang terbaik menurut Allah. Jadi saya terima saja,” jawab Cahya.
“Terus?” tanya Ari dengan semangat.
“Yang kedua, saya mencari cara menggabungkan ilmu yang saya miliki di jurusan ini, dengan hobi saya. Ternyata hasilnya lumayan..kereen abang saya merasa enjoy saja. Ibarat kata pepatah, nasi sudah jadi bubur. Tapi kalau menurut saya, nasi sudah menjadi bubur ayam spesial yang enak dan lebih mahal harganya daripada nasi,” jelas Cahya.
“Oh begitu toh….” jawab Ari.
“Menyesali sesuatu yang sudah terjadi tidak ada manfaatnya. Ibarat kata, kalau berusaha mengubah bubur jadi nasi, itu tidak mungkin. Satu-satunya cara adalah membuat bubur tersebut menjadi lebih nikmat makyus suedapp bet dah yaitu dengan menambahkan ayam, ampela, telor, dan bumbu rahasianya. Rasanya enak dan lebih mahal,” jelas Cahya sambil tersenyum.
![]() |
| Ilustrasi contoh orang optimis yang penuh inovasi dalam pemikirannya. |
Pelajaran Berharga dari Kisah Dion dan Cahya |
Sobat, dari kisah Dion dan Cahya, kita bisa belajar bahwa menghadapi situasi yang tidak ideal tidak selalu berarti menyerah. Terkadang, kita perlu mengubah sudut pandang dan mencari solusi kreatif untuk membuat keadaan menjadi lebih baik.
Bagaimana menurutmu, sobat? Apakah kamu pernah merasakan hal serupa dengan Dion atau Cahya? Bagikan pengalamanmu di kolom komentar!
Terima Kasih
Demikianlah episode kali ini. Semoga bermanfaat!Sampai bertemu kembali di episode selanjutnya.
Sumber : Motivasi islami.com
Link video youtubenya :
Tags : kisah inspiratif,nasi sudah menjadi bubur,salah pilih jurusan,mahasiswa,kuliah,enjoy, modifikasi.
"Revisi artikel oleh: Cici,seorang penulis AI"



Tidak ada komentar:
Posting Komentar